Genre : YAOI
Type : Two Shoots [END PART]
PART 1
Cast : Lee Teuk and Hee Chul (main cast), and other Super Junior Member
Rating : +17
Author : Wiedictator As Undeads
Note : sorry for the typo~
~In The Morning, Seoul, Korea, Super Junior’s Dorm 11th floor, Kitchen room, Leeteuk POV~
“YA!! Itu punya ku !!”
“Ani, ini punya ku !! sejak kapan kau suka susu coklat Eunhyuk-ahh ??”
“Hae, berikan badaku !!” dan Nhyuk pun mendapatkan susu coklat itu dari genggaman Hae.
“Ya kau !”
Seperti biasa, pasangan yang terlihat mesra di depan ELF selalu memulai hari dengan berdebat, padahal memperdebat kan hal yang sangat tidak penting. Terakhir aku mendengar perdebatan mereka satu bulan yang lalu. Ya, satu bulan yang lalu. Maklum, mereka berdua sekarang di sibukkan dengan jadwal subgroup Super Junior M di China. Hari ini mereka pulang, hanya sehari, tapi cukup membuat dorm ini menjadi ramai kembali. Sungguh merindukan ke 8 namja ajaibku ini.
“Hyung, bisakah kau meminta Nhyuk mengembalikan susu coklat ku ?” pinta hae.
“Hyung, jangan mau. Kan tadi aku yang mengambil susu coklat ini dulu, siapa cepat dia dapat hae. Kau jangan mengadu ke leeteuk hyung.”
“tapi kau merebutnya dari tangan ku”
“sudahlah, kalian berhenti, hanya duduk nikmati makan pagi kalian dan aku akan menyuruh Wookie membuatkannya lagi. Arraseo ?”
“ne hyung.” Begitu aku perintah, merekapun duduk manis di tempat masing-masing, melahap nasi goreng kimchi hasil karya cheff wookie.
Aku berjalan menuju ke arah wookie berada, yang sedang sibuk bergelut dengan cooking stuff demi menciptakan masakan yang lezat.
“Wookie-ahh” tegurku, wookie menoleh ke arahku sekilas, lalu kembali menatap kemasakannya.
“Ouwh hyung, ada yang bisa ku bantu ?”
“kau sedang apa ?”
“ini, memasakan sarapan untuh Heechul hyung. Kau sudah makan hyung ?”
“Ne.” jawabku singkat.
Aku mengedarkan pandangan ku ke penjuru ruangan, benar juga, aku tidak mendapati sosok namja cantik tapi juga tampan di sana. Dan akupun bertanya kepada wookie.
“Heechul belum bangun ?”
“eh.. seharusnya sudah, tapi entahlah kenapa heechul hyung belum turun.”
“Wookie-ahh tidak keberatankah kalau kau membuatkan 1 susu coklat lagi untuk donghae ?”
“ne, gwenchana, setelah ini akan aku buatkan.”
“gomawo, aku ke atas dulu melihat heechul.”
“Ne hyung.”
~In The Morning, Seoul, Korea, Super Junior’s Dorm 12th floor, Heechul’s room, Leeteuk POV~
Aku membuka pelan pintu kamar heechul begitu aku selesai mengetukknya. Aku mendapati Heechul duduk diam di pinggir tempat tidurnya, tatapanya kosong.
“Heechul-ahh gwechanayo ?” tanya ku masih berdiri diam di ambang pintu.
Dia menatap ke arahku, pandangannya dingin, sepertinya aku sudah mengganggu jam tidurnya, karena sorot mata ini selalu ia tunjukkan untuk semua orang yang mengganggu waktu santainya.
Aku memutuskan masuk kekamarnya, mendekatkearah heechul.
“Heechul-ahh..”
“Tunggu disini” suruh Heechul singkat. Dia beranjak dari tempatnya dan berjalan melewati ku.
“Kau mau kemana ?” tanyaku heran. Dia menyuruh ku menunggu sedangkan dia sendiri melangkah menjauhi ku. Tubuhnya yang membelakangi ku terhenti dengan tangan kanannya memegang kenop pintu. Dia memutar arah pandangnya ke arah ku.
“Aku mau mandi, wae ? apa kau mau ikut ?”
BLUSSHH !! mukaku di buat merah oleh kalimat terakhir heechul.
“An… aniyo… aku…”
“hanya tunggu disini, ada sesuatu yang ingin aku diskusikan dengan mu hyung.”
“ne” jawabku kaku, dan heechul pun menghilang dibalik pintu.
Sial, pagi-pagi sudah di buat spot jantung oleh pertanyaan namja itu. Aish.. aku memandang kesekeliling kamar heechul. Sejak kapan kamar ini menjadi begitu rapi ? setahuku, heechul type orang pemalas untuk membersihkan kamarnya. Terus aku menyusuri setiap sudut dari kamar yang hangat dengan warna dinding biru muda. Mataku berhenti ke sebuah meja kecil di samping tempat tidur heechul, disana tergeletak 1 pigura foto. Aku mendekat dan mengambil duduk di sudut tempat tidur dekat dengan meja itu, dan mengambil pigura itu.
“Hankyung” gumamku pelan
Didalam pigura itu terpampang foto-shoot hangkyung untuk sebuah iklan. Hankyung terlihat tampan dengan balutan jas hitam. Apakah sebegitu sulitnya heechul untuk menghapus nama Hankyung di hatinya ? Aku meletakkan kembali foto itu, dan pintu kamarpun terbuka.
Heechul masuk dengan masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
“Aku turun sebentar tadi, tapi kenapa sepi sekali ?” tanya Heechul mengambil duduk di sebelahku. Ouwh GOD, sejak kapan Heechul membuat jantung ku abnormal ?? kenapa berdetak begitu kencang ?
“eh ?”
“aku hanya menemukan si tuan kura kura itu duduk indah di ruang TV, bermain dengan kura kuranya, begitu aku tanya padanya kemana semua member, dia bilang tidak tahu, dia baru datang. Aish” jelasnya.
“em,, mung,,, mungkin sedang,, men,, menyiapakan barang-barang.”
“anboya ?”
“besok,, mereka,, emm..”
“YA ! kau kenapa hyung ? sakit ? demam ? atau kau lupa cara berbicara ?” heechul menyentuh kening ku.
Bukannya malah membuat ku tenang, ini malah semakin gawat. >< jantungku serasa ingin keluar dari tempatnya, dan sepertinya aku lupa cara mengambil nafas yang baik dan yang benar, nafasku tercekat di tenggorokan dan paru-paru ku ><
“ah Heechul-ahh..” aku menjauh dari jangkauan heechul, tapi sialnya tangan ku malah tanpa sengaja menjatuhkan pigura heechul, dan kaca dari pigura itupun pecah. Baik aku dan heechul menoleh ke arah pigura itu.
“…” heechul tidak bergeming, dia hanya melihat pigura itu.
“heechul-ahh mianhe,, bukan maksud..”
“Gwenchana hyung” ucapnya diiringi senyuman dan tatapan sendu, tatapan yang ia perlihatkan tadi malam.
“biar aku yang membersihkan” tawar ku begitu ia berjongkok hendak memunguti serpihan kaca.
Akupun memunguti serpihan kaca itu, heechul masih berjongkok diam memandangi pigura Hankyung yang masih tergeletak di lantai, aneh, kenapa ia tak mengambilnya ?
“Hankyung menelpon ku tadi pagi.”
Dan akupun tercengang, apa ini yang ingin dia bicarakan padaku ? aku menatapnya, dia masih menatap gambar hankyung.
“dia sudah menjelaskan semuanya, alasan kenapa dia berbicara seperti itu dimedia.”
“jadi, apa alasannya ?” tanya ku hati-hati.
“mianhe.. aku tidak bisa menecritakannya pada mu.” Kini dia menatapku. Matanya menahan air mata, tapi dia mencoba tersenyum menatapku.
Serpihan kaca yang kupegang aku taruh di atas meja kecil itu, dan tanganku pun beralih merengkuh heechul dan memberinya pelukan.
“kau tahu,, aku kecewa juga bahagia .. dia menjelaskan semuanya pada ku.. hiks ..”
Aku tidak bisa berbicara banyak, hanya membiarkan dia menjelaskan semua yang terjadi, dan membiarkan dia menumpahkan tangisnya di pelukkan ku.
“aku kecewa dengan alasan egoisnya, hiks… aku kecewa dia berkata seprti itu, tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak, karena semua telah terjadi.. hiks.. hiks..”
Tangisnya semakin menjadi. Kenapa akhir akhir ini kim heechul begitu terlihat lemah ? semuanya bisa terjadi dalam diri heechul apabila ini menyangkut Hankyung.
“hiks.. tapi aku .. aku juga bahagia dia menejelaskan semuanya padaku, walau itu terlambat, hiks… aku bahagia mendengar dia baik baik saja di sana.. hisk.. aku bahagia mendengar suaranya.”
Aku mengeratkan pelukanku, membawanya duduk di atas tempat tidur. Menggosok dan menepuk pundaknya perlahan, mencoba membuatnya tenang.
Heechul mulai menarik diri dari pelukanku.. dia tidak membiarkanku menghapus air matanya, dia menepis tangan ku.
“aku terlihat menyedihkan kan ?”
Belum sempat aku menjawab dia sudah memotong.
“aku sering menangis dihadapan mu, menyusahkan mu, bahkan membebanimu. Mianhe.”
“gwenchana heechul-ahh, aku hyung mu.” Dan dia kembali memelukku.
“sekarang kau harus percaya pada hankyung, bahwa dia masih sangat peduli kepada kita, apa yang dia ucapkan di media kemarin, bukanlah sesuai dengan apa yang dia lakukan. Benarkan ?” Aku merasakan dia mengangguk usai penjelasanku. Dan aku melepas pelukkannya, walau aku masih ingin.
“sekarang turunlah, dan makan. Aku menunggu di bawah.”
Aku mengambil serpihan kacar yang ada di meja, lalu mengambil pigura yang masih tergeletak di lantai dan menaruhnya di atas meja.
Tubuhku membeku diambang pintu, membalikkan badan mengahadap ke heechul yang kini memandangi ku dari atas tempat tidurnya.
“apakah dia sungguh tidak bisa di ganti ?” tanyaku tiba-tiba.
Heechul tidak begeming, matanya mengerjap mencoba mencerna kalimatku.
“dia, yang ada di hatimu, apakah begitu susah untuk di ganti ? apakah begitu berat untuk kembali membuka yang baru dan meninggalkan yang lama ?”
“hyung, apa maksudmu ?”
“apa kau tidak bisa menyadari, ada seseorang yang selalu memperhatikan mu, ikut tersenyum dengan mu walau kau tidak menyadarinya, ikut menangis bersama mu walau selalu terlihat tegar di depan mu, apa kau tidak tahu itu ?”
“hyung,, aku.. tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Dan siapa yang kau maksud ?”
Aku terdiam, menggaruk kepala ku dengan tangan yang tidak menggenggam serpihan kaca.
“lupakan, aku,, aku sendiri tidak tahu apa yang aku bicarakan. Hehe..” ucapku nyengir gaje, akupun langsung beranjak dari kamar heechul, dan mengutuki perbuatan ku.
~Seoul, Korea, Super Junior’s Dorm 11th floor, Heechul POV~
Begitu selesai aku menghabiskan sarapan pagiku yang terbilang amat sangat telat, aku beranjak menuju ruang TV. Betapa kagetnya aku ketika sampai di sana, aku mendapati leeteuk hyung duduk sendiri, setahu ku tadi masih ada yesung, kemana tuan kura kura itu ?
Kembali kalimat-kalimat yang leeteuk tadi terputar indah di otakku. Aku tahu apa yang kau bicarakan dan siapa yang kau bicarakan. Aku hanya ingin kau jujur, walau aku sendiri tidak yakin dengan hati dan pemikiran logis ku yang saling bertentangan.
Aku duduk tak jauh dari tempat ia duduk, matanya fokus menatap layar televisi, apa dia tidak menyadari ku ada disini ? atau sengaja tidak menganggapku ?
“ehem” aku berdeham sengaja. Tapi tidak membuat leeteuk hyung mengalihkan pandangannya dari layar kaca televisi.
“ehem ehem” kali ini aku berdeham sedikit lebih keras.
“hanya katakan.” Ucapnya, tetapi tatapannya tidak juga tertuju padaku.
“aku, berterimakasih kepada mu hyung.” Kali ini matanya manatapku heran.
“jangan bilang kau berterimakasih karena aku sudah rela menjadi tempat menangis mu, lupakan, itu tidak perlu, itu sudah tugas ku mendampingi kalian.”
Aku memandangnya aneh, tadi mencueki ku, sekarang ceramah, dasar orang aneh. Dia kembali menatap televisi 40 inch-nya itu. Apa televisi itu jauh lebih menarik dari aku? shit kau jung so!
“Aku berterimakasih karena kau sudah memcahkan pigura ku, dan kau tidak perlu menggantinya.”
“waeyo ?”
“aku sudah mencoba untuk melupakannya, tapi aku terlalu sulit untuk menghapus semua kenangannya. Aku butuh orang yang memaksaku, dan aku rasa itu kau.”
Dia tercengang mendengar penjelasannku. Dia menatapku menginterogasi.
“tapi kau tidak hyung. Kau sama sekali tidak membantuku untuk melupakknya. Kau malah membuatku semakin ingat dengannya. Jujur aku tidak pernah mempermasalahkan dia berbicara seperti itu dimedia tapi aku mempermasalahkannya dihapan mu, karena aku ingin kau membantu ku melupakannya. Tapi apa ? kau malah menyuruhku untuk percaya padanya. Kau semakin menjatuhkan ku pada harapan yang tidak mungkin bisa terjadi. Harapan ku yang menginginkannya kembali di Super Junior, dan harapan agar dia.. emmphh”
Kalimatku terhenti, bukan karena aku kehabisan kata-kata, tapi karena leeteuk hyung menghentikan bibirku yang tanpa henti berbicara, dia menghentikan bibirku dengan bibirnya, ya bibirnya yang hangat.
Aku tidak membalas ciumannya, karena aku rasa itu hanya ciuman biasa, seperti yang aku lakukan terhadap siwon, jungmo bahkan sungmin. Tapi ternyata tidak, perlahan dia melumat bibirku, dan membuatku hanyut dibawah kendalinya. Aku mulai memejamkan mataku, aku rasakan tangan leeteuk hyung menyentuh tengkuk ku membuat ciuman kami semakin dalam, dan aku pun membalas ciumannya.
Entah pikiranku melayang kemana, yang jelas sekarang aku sangat menikpmati apa yang leeteuk hyung lakukan padaku. Dia mengarakhan tangan ku untuk melingkar di lehernya sedangkan tangannya mengelus-elus punggung ku.
“emmphh.. hyuu… yung” aku meracau tak jelas.
Leeteuk hyung menidurkanku di sofa tempat kami berbincang tadi, menindih tubuh ku. Entah sejak kapan tapi aku merasakan tangan leeteuk hyung masuk ke kaos putih tipis yang kukenakan.
Kali ini bibir leeteuk hyung sudah tidak berada di bibirku, bibirnya sudah merajai leher putihku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ku, tubuh dan otakku tidak menolak setiap sentuhannya, aku malah meminta lebih. Na micheo..
“hhyyuung.. kkaauu.. ahhh..”
Aku yakin dia sedang membuat kissmark di leher ku, shiitt aku tidak bisa melawan.
aku berhenti meracau ketika leeteuk hyung juga berhenti mencumbu leher ku. Aku menatapnnya heran, kenapa tiba-tiba berhenti ?
“mian” ucapnya, matanya tidak menatapku, tapi tubuhnya tetap menindihi tubuh ku.
Selang beberapa menit leeteuk hyungpun beranjak dari atas tubuhku, duduk disampingku dan memandang kebawah.
“maaf aku melakukkannya dengan mu.. aku tidak bermaksud untuk..” aku menyentuh dagunya, membuatnya menatap ku, menatap wajahku.
“kau tahu hyung, mungkin aku memang tidak bisa melupkan hankyung, tapi itu karena tidak ada yang membuatku melupakkannya. Bahkan kalian, masih memberiku harapan bahwa ia masih bisa kembali dengan kita, padahal itu sulit.”
“hyung aku mohon, bantu aku melupakannya, bantu aku menerima kenyataan bahwa dia sudah tidak ada di sekitar kita, kau tahu betapa sulitnya aku ketika membaca beratus bahkan beribu mention yang meminta ku memohon agar hankyung hadir di antara kita, itu sangat berat hyung.”
“jangan, aku mohon jangan lupakan dia.”
Aku kaget, kenapa dia melarang ku melupakkan hankyung. Padahal aku yakin bahwa seseorang yang dia maksud tersenyum namun aku tidak dapat melihatnya, dan ikut menangis walau dia tampak tegar di depan ku itu adalah dia. Aku yakin itu.
“Jujur aku sangat menyukai mu, aku menyukai mu sejak hankyung datang, aku suka caramu mengajari hankyung berbahasa korea, aku suka caramu melindungi hankyung dari hukum aneh di korea, aku suka cara mu menangis demi dia, sejak saat itu.. aku semakin mengagumi mu.”
“hyung…”
“kau tahu betapa kagetnya aku ketika hankyung mengajukan gugatan itu. Aku takut ketika tidak ada hankyung di antara kalian aku tidak akan bisa menemui heechul yang ceria, heechul yang jahil aku takut membuat mu sedih. Bahkan yang paling parah, aku takut kau menyusul hankyung.”
Aku memegang kedua telapak tangannya.
“belakangan aku yakin bahwa kau sudah bisa lepas dari hankyung, tapi keyakinan itu rontok ketika aku mandapati kau mengupload foto hankyung di twitter.”
“tapi hyung.. kau akan melukai kangin.. dan..”
“maaf kalau aku melukai hankyung, tapi jujur, kangin lah yang meyakinkan ku, meyakinkan bahwa tidak salah jika aku menyayangi mu. Menyayangi sebagai Park Jung So ke Kim Heechul, bukan antara Leeteuk ke Heechul.”
“mwo ?” tanya ku, bukannya kangin adalah couple dari leeteuk hyung ?
“Kau salah keika kau berfikir bahwa hunbungan ku dan kangin seperti hubungan kyuhyun dan sungmin,, itu salah, aku dan kangin hanyalah sebatas hyung dan dongsaeng, tidak lebih.”
“joasseo, kalau kau menyayangiku, kenapa kau melarang ku untuk melupakan hankyung ?”
“Kau harus ketahui satu hal, bahwa kenangan tidak sepantasnya di hapus, karena kenanganlah yang membawa kita sejauh ini. Kenangan indah membuat kita bersemangat, sedangkan kenangan buruk membuat kita semakin tegar dalam menjalani hidup.”
“aku tidak paham..”
“Aku tidak mau kau melupakan hankyung, sama halnya kau melupakan bahwa dia pernah ada di antara kita, cukup ganti namanya di hatimu dan biarkan kenangan tentang hankyung ada di sana, karena dengan kenangan sedih kita dapat memotivasi dirikita untuk hidup lebih baik dan tidak mengulanginya untuk kedua kalinya dimasa mendatang, arraseo ?”
“emm,, hyung ketahuilah bahwa butuh waktu untuk mengganti namanya, apa kau bersedia memberikau waktu ?”
“Aku akan menunggumu, sampai kau mengganti nama hankyung di hatimu tanpa harus melupakannya.”
“ne.. tapi..”
“tapi apa ?”
Aku mencoba menggodanya, apa dia akan memintaku untuk mengganti nama hankyung dengan namanya, atau siapa saja yang aku kenal. Hehehe~
“harus di ganti dengan siapa hyung ?” tanya ku innocent.
“ten.. tentu saja dengan nama ku” jelasnya gugup, mukanya memerah, bahkan ia tidak berani menatap mata ku.
“sincharo ? buktikan bahwa kau harus mengganti nama nya dengan nama mu, PARK JUNG SO.” Ucap ku tepat di telinganya.
Tanpa sepatah kata leeteuk hyung langsung menindihi tubuh ku, menangkap tubuhku di bawahnya, membawaku kedalam cimuan yang tak kalah panasnya dari pada tadi.
“emmhh,, hyuungg.. emmphh..” ucapanku tertahan.
Aku memberanikan tangan ku masuk ke kemeja yang dikenakannya, mengusap sixpack leeteuk hyung yang sering di umbarnya selama promo BONAMANA. Kenapa aku baru menyadari bahwa leeteuk hyung memiliki sixpack yang tidak kalahnya dari milik siwon ? kekeke~
Aku merasakan tangan leeteuk hyung menuju paha ku, dia mengangkat ku, melepas ciuman kami dan berkata..
“kita lanjutkan di kamar”
Aku hanya tersenyum, leeteuk hyung membawaku ke kamarnya dan dia kembali menjamah leher jenjang ku, membuat banyak tanda di sana, tanda bahwa sekarang aku menjadi milik leeteuk hyung.
“Hyyuungg.. sa,, sarang,, saranghae..” racau ku sedangkan yang ku panggil semakin bringas menyentuh setiap inci dari tubuh ku.. hingga..
~Meanwhile, Seoul, Korea, Super Junior’s Dorm 11th floor, Donghae POV~
“ayolah nhyuk, jangan ganggu mereka.”
“bentar hae, nanggung. Ouwh lihat, leeteuk hyung mengangkat heechul hyung dan memberi heechul hyung kiss mark, dan ahh.. mereka masuk kamar ~,~” jelas eunhyuk yang sedari tadi mengintip dari balik tembok dapur yang tidak jauh dari ruang TV.
“tidak sepantasnya kita melihat ini.”
“hae, sudah kuduga leeteuk hyung mempunyai perasaan dengan heechul hyung.”
“sincha ? darimana ?”
“leeteuk hyung secara otomatis akan merespon apabila kita berbicara mengenahi heechul hyung. Dan kau tahu, leeteuk hyung amat sangat kuatir ketika heechul hyung terkena lemparan di shanghai.”
“leeteuk hyung juga seperti itu ke kita.”
“aniya” bantahnya cepat.
“leeteuk hyung bahkan meminta bertukar kamar dengan shindong hyung agar dia bisa bersama menemani heechul hyung. Leeteuk hyung tidak akan melakukan itu pada siapa pun kan ? kepada kita, hanya menjenguk. Tidak untuk bermalam.” Jelasnya lagi.
Ada benarnya, bahkan tadi pagi, begitu wookie bilang heechul hyung masih di atas, leeteuk hyung langsung naik, kalau member lain yang seperti itu, pasti dia menyuruh nhyuk atau yesung hyung membangunkan.
“aku senang sekarang heechul hyung sudah bisa terbuka dengan yang lain.”
“eh ?” aku memandang tingkah nhyuk aneh, matanya menerawang jauh, tangan nya saling menggenggam di dadanya, seolah memohon doa kepada tuhan, kenapa dia ini ?
“Haeee~~ aku sangat bahagia.” Ucapnya tiba-tiba memelukku, dan akupun terkaget.
“Nhyuk, kenapa kau memelukku, lepaskan aish !!” pinta ku.
Dia melepas pelukkannya
“aku terlalu bahagia hae, aku ingin memeluk seseorang, sedangkan sekarang hanya kau yang disini bersama ku, jadi…” dia menggantungkan kalimatnya.
“jadi apa ?” tanya ku
“Ijinkan aku memelukmu lagii~~ \(^0^)/” ucapnya girang lalu memelukku.
“Aish” keluh ku, aku hanya membiarkannya memelukku.
“hae ..”
“hemm.. “ jawab ku asal-asalan.
“tubuh mu hangat ^ ^”
DEG !!! O_O
-THE END-
Note : Finally ,,, this fanfic was finish ^ ^ hope you like it guys.. sorry for the late post >/////< belakangan author sungguh sangat sibuk *kencan dengan heenim di pagi hari, kasih makan heebum, malam na kencan ma leeteuk dsb* well thx for reads ya *deep bow*



Tidak ada komentar:
Posting Komentar